Laman

Senin, 24 Januari 2011

Dari "HOMO ERECTUS", "HOMO SOLOENSIS", "HOMO FLORESIENSES"

Indonesia, ”Sarang” Hobbit yang Pintar
Jum’at, 29 Oktober 2004
JAKARTA- Dijuluki sebagai Hobbit, entah sebuah kebanggaan atau bukan. Yang jelas memang fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia selalu berukuran lebih kecil dibanding fosil di negara barat. Tapi semuanya sama-sama pintar menciptakan peralatan penunjang hidup sehari-hari.
Mahluk bangsa Hobbit tidak hanya ada dalam karya fiksi JRR.Tolkien, Lord of The Ring. Suku bangsa yang digambarkan bertubuh cebol menyerupai manusia itu sudah ada sejak 13.000 tahun silam. Dan mereka hidup di pulau Flores, Indonesia. Manusia mungil ini memiliki tengkorak kepala seukuran dengan buah anggur. Mereka disinyalir hidup sezaman dengan gajah pigmi dan komodo di pulau tersebut.

Membantah Teori Lama Temuan yang dihasilkan oleh ilmuwan Indonesia dan Australia ini berupa miniatur tubuh manusia di sebuah gua di Flores. Para ilmuwan mengumumkan bahwa ini merupakan fosil manusia purba paling lengkap dalam dunia arkeologi. Dinamakan Homo floresiensis, fosil manusia cebol ini berasal dari manusia purba perempuan dengan tinggi tubuh hanya satu meter, bobot 25 kilogram dan diperkirakan berusia 30 tahun saat meninggal.
Homo floresienses disebut sebagai temuan paling spektakuler dalam ilmu paleoantropologi dalam setengah abad terakhir ini. Yang unik, karena hidup sejak 13.000 silam, berarti manusia cebol tersebut hidup bersamaan dengan manusia normal lainnya.
“Mahluk ini hidup sama dengan manusia spesies lainnya. Berjalan dengan dua kaki dan memiliki otak berukuran kecil. Fakta bahwa mereka hidup di masa yang sama dnegan manusia lain sungguh di luar dugaan,” komentar Peter Brown, seorang paleoantropolog dari University of New England di New South Wales, Australia seperti yang dikutip National Geographic baru-baru ini. Brown bersama dengan timnya didanai oleh National Geographic Society’s Committee for Research and Exploration untuk ekspedisi tersebut.
Diperkirakan pulau Flores telah didiami manusia cebol itu sejak 95.000 hingga 13.000 tahun silam. Ini disimpulkan dari usia tulang belulang dan peralatan yang mereka pakai di pulau tersebut. Dengan temuan ini maka berubahlah pandangan para ilmuwan mengenai bagaimana manusia purba di masa lalu berevolusi dalam hal budaya, biologi dan geografi.
Temuan ini membuktikan bagwa genus Homo jauh lebih bervariasi dan lebih fleksibel dalam hal beradaptasi. Yang termasuk genus Homo meliputi pula manusia modern, Homo erectus, Homo habilis, and Neandertals. Kesamaan di antara mereka adalah sama-sama memiliki ruang simpan luas di otak, postur tubuh tegap, dan mampu menciptakan alat-alat.
Karena memiliki tubuh yang lebih kecil, ukuran otak lebih mungil dan anatomi tubuh yang lebih primitif, maka Homo Floresienses membantah semua teori yang menyatakan bahwa ciri khas genus Homo adalah ukuran tubuh yang besar. Para ilmuwan memprediksi bahwa mereka ini masih berhubungan dengan populasi Homo erectus yang tiba di Flores sekitar 840.000 tahun lalu.
Homo Erectus
Temuan fosil Hobbit tersebut bukan yang pertama di Indonesia. Sebelumnya sudah ditemukan spesies Homo erectus dikenal pula dengan nama Pithecanthropus Erectus. Spesies ini ditemukan sekitar dua juta tahun yang lalu, ketika curah hujan di dataran Sunda dan dataran Sahul sangat besar, dan ketika seluruh daerah ini tertutup oleh vegetasi tropikal yang sangat padat. Selama jangka waktu tujuh puluh tahun lamanya, di berbagai tempat di sepanjang lembah sungai brantas di Jawa Timur, telah diketemukan sebanyak 41 buah fosil manusia purba itu. Situs-situs yang tertua berlokasi di dekat desa Trinil, Ngandong dan Sangiran dan dekat kota Mojokerto.
Mereka adalah manusia purba yang diperkirakan hidup dalam kelompok-kelompok kecil bahkan mungkin dalam keluarga-keluarga yang terdiri dari enam hingga 12 individu, yang memburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai di dataran Sunda, cara hidup seperti itu agaknya tetap berlangsung selama satu juta tahun. Kemudian ditemukan sia-sia artefak yang terdiri dari alat-alat kapak baru di sebuah situs dekat desa Pacitan, dalam lapisan bumi yang berdasarkan data geologi diperkirakan berumur 800.000 tahun.
Dari manusia purba yang baru ini, didapat dua buah tulang kaki dan 11 tengkorak dengan ukuran yang lebih besar dari pada Pithecanthropus yang lebih tua umurnya. Tengkoraknya menunjukkan tonjolan yang tebal ditempat alis, dengan dahi yang miring kebelakang. Suatu analisa cermat atas tengkorak tersebur yang dilakukan oleh ahli paleoantropologi di Indonesia, yakni Teuku Yakup pada tahun 1967, membenarkan bahwa manusia Ngandong itu merupakan keturunan langsung dari Pithecanthropus Erectus. Manusia Ngandong ini biasanya disebut Homo Soloensis yang terus menjadi mahluk manusia Homo Sapiens dengan ciri-ciri ras yang merupakan ciri-ciri ras nenek moyang ras Austro Melanosoid.
Sisa-sisa jenis ini ditemukan disuatu tempat di Wajak Jawa Timur (E. Debois 1920) yang ada persamaannya dengan orang Australia pribumi purba. Sebuah tengkorak kecil dari seorang wanita, sebuah rahang bawah dan sebuah rahang atas dari manusia purba itu sangat mirip dengan manusia purba ras Australoid purba yang ditemukan di Talgai dan Keilor yang rupanya mendiami daerah Irian dan Australia. (SH/merry magdalena)

dari : sinarharapan.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar